Malam Pagelaran Seni Dan Budaya Kabupaten Nias Utara Di Pekan Raya Sumatera Utara

Pemerintah Kabupaten Nias Utara melaksanakan Malam Pagelaran seni dan budaya Kabupaten Nias Utara di panggung Keong Pekan Raya Sumatera Utara yang dihadiri oleh Bupati Nias Utara, Sekretaris Daerah kabupaten Nias Utara, Ketua dan Anggota DPRD Kabupaten Nias Utara, Gubernur Sumatera Utara yang diwakili Kepada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sumatera Utara, Forkopinda Kepulauan Nias, Masyarakat Nias Utara dan pengunjung Pekan Raya Sumatera Utara (Jumat, 22 Maret 2019)
Sekretaris Daerah Kabupaten Nias Utara dalam sambutannya menyatakan Bahwa malam Pagelaran Seni dan budaya ini akan menampilkan prosesi mendirikan gowe, hoho folaya, tari kreasi tefaeri, dan atraksi musik tradisional, hubolo lailo dan maena massal.
Ketua DPRD Kabupaten Nias Utara menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten Nias Utara khususnya OPD teknis Dinas Paiwisata Kabupaten Nias Utara atas terlaksananya Malam pagelaran seni dan budaya Kabupaten Nias Utara. Yang ditampilkan di malam ini adalah sebagian budaya Nias Utara untuk itu kami mengajak semua agar datang bersama-sama ke pulau Nias khususnya Kabupaten Nias Utara untuk melihat adat istiadat secara menyeluruh dan melihat panorama wilayah Nias Utara. Juga berharap kepada Gubernur Sumatera utara agar budaya di Kabupaten Nias Utara dapat dikembangkan melalui program nasional, program provinsi dan program Kabupaten Nias Utara.
Kepala Dinas kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sumatera Utara dalam pidatonya menyampaikan bahwa baru-baru ini di Jakarta telah dilaksanakan launching Sail Nias Indonesia 2019, dan pada saat itu juga diberikan penghargaan berupa tari perang dan tari maena, dengan diselenggarakan pagelaran seni budaya Kabupaten Nias Utara malam ini adalah bukti komitmen kita memperlihatkan keanekaragaman bangsa kita dan juga bukti Pemerintah Kabupaten Nias Utara peduli untuk melestarikan dan mengembangkan kebudayaan yang ditanamkan kepada generasi muda agar dapat mencintai budaya daerah khususnya budaya Nias Utara.

Bupati Nias Utara, M. Ingati Nazara dalam pidatonya menyatakan bahwa tema pagelaran seni dan budaya malam ini “Famasindro Gowe Zalawa” yang bermakna proses pendirian sebuah kampung, perkumpulan beberapa kampung sampai diangkatnya tuhe nori (Kepala Negeri) dalam masyarakat Nias pada masa dahulu kala.
Masyarakat Nias pada Zaman dulu memiliki beberapa kebudayaan yang tinggi dan tidak kalah penting dengan kebudyaan daerah dan bangsa lainnya. Kebudayaan-kebudayaan ini ada yang bersifat fisik seperti “omo hada” (Rumah Adat), “Gowe” (Batu Megalitik), serta “Fondrako” sebagai bentuk aturan yang dapat menjamin keamanan dan kesejahteraan bagi masyarakat luas.
Famasindro Gowe memiliki makna yang merupakan simbol berdirinya sebuah kampung adat pada masanya, hal ini memiliki berbagai unsur pendukung seperti: adanya manusia yang mempunyai kebersamaan kepentingan pada umumnya terdiri dari suatu ikatan kekerabatan atau marga; Mempunyai lahan yang memungkinkan untuk dijadikan sebagai tempat tinggal dan sekaligus sebagai tempat mencari nafkah yang aman dan tentram dan mempunyai tokoh atau pimpinan yang memiliki kekuatan, pengetahuan, wibawa, kharisma serta pandangan yang mampu melakukan pendekatan baik ke dalam maupun luar lingkungan oleh unsur kekuatan pendamping yang dapat mengendalikan dan mengerahkan semua potensi yang ada.
Bupati Nias Utara juga menyampaikan capaian pembangunan saat ini sesuai dengan prioritas pemerintah yakni:
1. Sektor kesehatan masyarakat : Telah selesainya Pembangunan RS Pratama yang berkapasitas 50(lima puluh) tempat tidur dan 11(sebelas) unit puskemas Baru yang tersebar di beberapa Kecamatan. Pemerintah Kabupaten Nias Utara juga mendapat penghargaan “Universal Health Coverase” (UHC) sebagai wujud keseriusan pemerintah daerah dalam meberikan jaminan kesehatan secara gratis dan menyeluruh kepada masyarakat Nias Utara.
2. Sektor Infrastruktur: Prioritas Pembangunan jembatan dan jalan raya bertaraf Hot Mix yang dapat menghubungnan antara kabupaten, kecamatan, dan desa sehingga hasil komoditi masyarakat dapat terpasarkan dengan baik yang akan meningkatkan perekonomian masyarakat.
3. Sektor Pariwisata : Pemerintah saat ini dengan serius berupaya membenahi dan membangun berbagai faktor pendukung yang merupakan kebanggaan daerah kabupaten Nias Utara, dalam hal ini potensi pariwisata bahari, sehingga dapat dikenal luas baik tingkat nasional maupun tingkat internasional
4. Sektor Pendidikan : Pemerintah terus meningkatkan mutu dan kualitas pendidikan serta rehabilitas gedung sekolah yang tidak layak pakai sehingga diharapkan peserta didik dan tenaga pendidik merasa aman dan nyaman pada saat berlangsungnya proses belajar mengajar, Dalam meningkatkan mutu pendidikan pemerintah membuat program Pengangkatan tenaga pendidik dalam bentuk Guru Bantu Daerah yang telah memenuhi kualifikasi pendidik dengan berbagai latar belakang ilmu pendidikan.

Beberapa Atraksi yang di tampilkan antara lain:
1. Famasindro Gowe Zalawa
Famasindro Gowe zalawa merupakan budaya warisan yang turun temurun kepada kita sampai saat ini yang didasari famataro mbanua serta penganugrahan nama balugu kepada seseorang. Selain itu, famasindro gowe zalawa merupakan simbol atau tanda bahwa didalam masyarakat tersebut memiliki seorang balugu atau raja. Penganugrahan nama balugu juga diliat dari segi kekayaan, kepimpinan, usia atau umur dan kecerdasan atau kemahiran. “Seorang raja yang baik adalah raja yang mampu memikirkan dan mengayomi rakyatnya”.
Tahapan famasindro gowe zalawa: Tari awal famasindro gowe zalawa; Fangowai + fame afo sumange; penjemputan gowe (batu) disungai terdekat; peletakan gowe dihalaman rumah zalawa yang akan dianugrahi kebesaran; hadirnya zalawa bersama inambanua dekat gowe atau batu; pemberian nama kebesaran (balugu) dan penuturan kasta sebagai raja oleh balugu pihak tome; fenebu gowe oleh balugu sowato artinya melaksanakan ritual pelemparan telur sebagai simbol yang mempunyai arti bahwa raja yang baik mampu mengayomi masyarakatnya; sebagai wujud rasa sukacita setelah penganugrahan nama kebesaran kepada balugu maka putri raja didaulat untuk menari yang didampingi juga oleh putri-putri cantik dari kampung tersebut; dilanjutkan dengan tari hoho dan folaya dan diakhiri dengan tari hiwo oleh masyarakat setempat.
Tari hoho dan folaya merupakan tarian kolosal yang melibatkan penari dalam jumlah yang tidak terbatas, gerakan dalam tarian ini memperagakan gerakan-gerakan layaknya seorang prajurit yang sedang berada di medan perang. Tarian ini menurut sejarahnya merupakan ungkapan sukacita dari para prajurit setalah meraih kemenangan.
2. Alat musik Tradisonal
Alat musik yang ditampilkan dalam malam kesenian ini antara lain gendang (terbuat dari kayu, kulit kambing dan rotan yang dimainkan dengan cara dipukul atau ditabuh); Aramba atau gong( kelompok idiofon yang terbuat dari tembaga, kuningan, suasa dan nikel dimainkan oleh satu orang, alat musik ini berperan sebagai pembawa pola irama); doli-doli(terbuat dari susunan beberapa kayu yang terdiri dari beberapa nada dimainkan dengan cara memukul dan menggunakan alat pemukul); riti-riti (terbuat dari kayu yang dibuat berongga dan pada rongga tersebut diisi kacang-kacangan dan dimainkan dengan cara menggoyangkan); Faritia (terbuat dari kuningan dimainkan dengan cara dipukul); keroncong(bentuknya seperti gitar yang dimainkan dengan cara dipetik)
3. Hubolo Lailo
Pada zaman dulu hubolo lailo adalah ratapan hati seseorang yang diungkapkan dengan sebuah lailo atau nyanyian yang pada awalnya tidak bersajakan dan hanya di iringi oleh keroncong atau doli-doli. Seiring perkembangan zaman hubolo lailo dikembangkan dan diaransemen menjadi satu nyanyian atau sajak yang beraturan dan diiringi oleh alat musik tradisonal lainnya dan dikreasikan dalam sebuah tari.

4. Maena
Sebagai penutup Acara panitia mengajak semua yang yang hadir untuk maena bersama di panggung